Ada buku yang dibaca untuk hiburan, ada yang dibaca untuk pengetahuan. Broken Strings karya Aurélie berada di kategori lain: buku yang dibaca sambil menahan napas. Sejak halaman awal, memoar ini terasa seperti bisikan yang akhirnya berani diucapkan keras‑keras—tentang manipulasi, kekerasan emosional, dan bagaimana sebuah hubungan bisa perlahan berubah menjadi penjara tak kasatmata.
Buku ini bukan sekadar kisah korban dan pelaku. Ia adalah catatan bertahan hidup, ditulis dengan nada mentah, jujur, dan terkadang menyakitkan. Aurélie tidak mencoba terlihat sempurna. Ia menulis sebagai manusia yang pernah takut, bingung, dan terjebak—dan justru di situlah kekuatannya.
Key takeaways utama dari buku ini:
🎭 Hubungan manipulatif jarang dimulai dengan kekerasan, tapi dengan pesona
🪢 Kontrol emosional bekerja pelan, seperti tali yang mengencang tanpa terasa
🕊️ Keberanian bersuara sering datang setelah titik terendah
🔥 Pemulihan bukan garis lurus, tapi proses panjang yang mungkin
🌱 Kebenaran, cepat atau lambat, selalu menemukan jalannya
Gambaran Umum Broken Strings
Broken Strings adalah memoar yang dibangun secara kronologis, terbagi ke dalam beberapa bagian besar yang mengikuti perjalanan hidup Aurélie—dari masa kecil, awal karier, masuknya hubungan toksik, hingga proses pembebasan diri. Setiap bab pendek, namun padat emosi. Tidak ada dramatisasi berlebihan, justru keheningan dan detail kecil yang membuatnya terasa nyata.
Seorang psikolog trauma, Dr. Bessel van der Kolk, pernah mengatakan bahwa “trauma is not the story of something that happened back then, it’s the current imprint of that pain.” Kalimat itu terasa hidup di setiap halaman buku ini.
Bagian Awal: Latar Belakang dan Awal Karier
Prologue dan Introduction
Buku dibuka dengan trigger warning yang jelas. Aurélie tidak ingin menjebak pembaca secara emosional tanpa peringatan. Ia menegaskan bahwa buku ini tidak ditulis untuk membuka luka lama demi sensasi, melainkan untuk memecah keheningan—terutama bagi para penyintas yang masih merasa sendirian.
Nada awalnya tenang, hampir dingin. Tapi justru itu yang membuatnya terasa jujur.
Kesempatan Sekali Seumur Hidup
Bab pertama membawa kita ke masa kecil Aurélie di Brussel. Keluarga sederhana, penuh kerja keras, dan nilai disiplin. Ia menggambarkan dirinya sebagai anak pemalu, sering menjadi korban perundungan. Kepindahan ke Indonesia menjadi titik balik yang tak pernah ia duga.
Kemenangan dalam kompetisi bakat di Bandung membuka pintu dunia hiburan. Di titik ini, pembaca melihat Aurélie sebagai remaja berbakat yang sedang menapaki mimpi—tanpa tahu badai apa yang akan datang.
Bagian Pertengahan: Awal Hubungan dan Eskalasi Manipulasi
Kita Lihat
Pertemuan pertama dengan Bobby digambarkan nyaris biasa. Tidak ada adegan mencurigakan. Justru di situlah bahayanya. Bobby, aktor 29 tahun, tampil ramah, dewasa, dan penuh perhatian. Ia mendekati keluarga Aurélie, membangun kepercayaan, menciptakan ilusi keamanan.
Manipulasi jarang datang dengan wajah menyeramkan. Ia sering datang sambil tersenyum.
Tanda Pertama
Bab ini adalah alarm yang sering diabaikan banyak orang. Bobby mulai mengkritik cara Aurélie berbicara, berpakaian, dan berinteraksi. Ia meminta semua kontak laki‑laki dihapus dari ponsel—dengan dalih “menjaga”.
Kontrol emosional mulai bekerja. Pelan. Halus. Tapi konsisten.
Dentang Rantainya
Ini salah satu bab paling berat. Aurélie menceritakan pemerkosaan yang terjadi di apartemennya sendiri, saat keluarganya ada di rumah. Trauma itu kemudian “ditutup” oleh Bobby dengan janji pernikahan—sebuah pola klasik yang dikenal dalam studi kekerasan relasi intim.
Menurut psikolog klinis, Lundy Bancroft, pelaku sering menggunakan future faking—janji masa depan—untuk mengaburkan kekerasan di masa kini.
Kupikir Aku Sedang Menyelamatkannya
Ancaman bunuh diri, pemerasan foto intim, dan tekanan psikologis membuat Aurélie percaya bahwa ia harus “menyelamatkan” Bobby. Bahkan sampai dipaksa membuat laporan palsu terhadap orang tuanya sendiri.
Di titik ini, identitasnya mulai tergerus.
Boneka Miliknya
Aurélie menggambarkan dirinya seperti boneka dengan tali yang ditarik kuat. Ia mengikuti skenario Bobby di depan media dan aparat, merusak hubungannya dengan keluarga. Bab ini terasa sunyi, dingin, dan menyedihkan—karena pembaca tahu ia sudah hampir sepenuhnya kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Bagian Krisis: Kehilangan Kebebasan dan Pernikahan Paksa
Pengkhianatan
Saat Aurélie mencoba kabur, pengkhianatan datang dari orang terdekat. Temannya, Kelly, memberikan nomor barunya kepada Bobby. Harapan yang baru tumbuh langsung runtuh.
Rasa dikhianati ini sering kali lebih menyakitkan daripada kekerasan itu sendiri.
Sah Tapi Tak Bebas
Ancaman meningkat. Bobby mengklaim memiliki pembunuh bayaran untuk membunuh orang tua Aurélie jika ia tidak patuh. Teror kini tidak lagi simbolik, tapi eksplisit.
Tandatangani
Di hari ulang tahunnya yang ke‑18, Aurélie dipaksa menandatangani dokumen pernikahan. Tidak ada cincin, tidak ada kebahagiaan—hanya rasa takut.
Gereja di Waktu Fajar
Pernikahan ilegal dilakukan di waktu fajar, dengan saksi palsu dan suasana yang ganjil. Bab ini terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.
Bukan Putriku
Dampaknya brutal. Aurélie diusir oleh ibunya yang merasa dikhianati. Sementara itu, kekerasan fisik mulai muncul—cubitan, tekanan kecil yang menjadi pertanda eskalasi lebih besar.
Bagian Puncak: Kehidupan dalam “Penjara”
Gadis Baik
Aurélie tinggal di rumah Bobby dan diperlakukan seperti pembantu. Mencuci pakaian seluruh keluarga dengan tangan. Stres berat membuat tubuhnya bereaksi—pendarahan berkepanjangan yang diabaikan.
Tubuh sering berbicara ketika suara kita dibungkam.
Dia Menangis
Siklus klasik kekerasan: Bobby meludahi wajahnya, lalu menangis dan berpura‑pura menjadi korban. Bab ini menjelaskan cycle of abuse dengan sangat nyata.
Ritual Itu
Fetish seragam sekolah, sabotase karier, tato paksa—semua dilakukan untuk memastikan Aurélie tidak punya jalan keluar. Kontrol total.
Angel
Monyet kecil bernama Angel menjadi metafora paling menyayat. Bobby menyiksanya untuk menunjukkan kuasa. Apa yang ia lakukan pada hewan itu adalah cerminan perlakuannya pada Aurélie.
Di Depan Umum
Meludah di depan orang asing. Tanpa malu. Tanpa takut. Kekerasan sudah menjadi identitas.
Bagian Akhir: Kebenaran dan Pembebasan
Kebenaran Terungkap
Bab 17–19 menjadi titik balik. Ibu Aurélie menemukan bahwa pernikahan mereka tidak sah secara gerejawi. Bobby semakin brutal—tamparan, injakan, bahkan memukul kepala Aurélie dengan Alkitab.
Ironi yang mengerikan.
Jangan Mati
Upaya bunuh diri bersama di jalan tol. Salah satu momen paling mencekam dalam buku ini.
Berani Bersuara
Aurélie akhirnya berbicara kepada kru syuting dan orang tuanya. Meski dihantam kampanye hitam di media, ia berhasil keluar dari rumah itu.
Bebas
Proses penyembuhan dimulai. Pernikahan dibatalkan secara resmi. Aurélie menemukan kebahagiaan dan pasangan yang menghormatinya.
Bonus Chapter
Refleksi setelah buku terbit. Respons pembaca. Dan bagaimana karma akhirnya bekerja.
Tabel Ringkasan Struktur Buku
| Bagian Buku | Fokus Utama | Tema Emosional |
| Awal | Masa kecil & karier | Harapan |
| Pertengahan | Manipulasi awal | Kebingungan |
| Krisis | Pernikahan paksa | Ketakutan |
| Puncak | Kekerasan ekstrem | Keputusasaan |
| Akhir | Pembebasan | Pemulihan |
Frequently Asked Questions
Apakah Broken Strings berdasarkan kisah nyata?
Ya, buku ini adalah memoar pribadi Aurélie dan ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri.
Apakah buku ini berat untuk dibaca?
Secara emosional, iya. Namun ditulis dengan bahasa yang jujur dan reflektif, bukan sensasional.
Untuk siapa buku ini direkomendasikan?
Untuk pembaca dewasa, terutama mereka yang ingin memahami dinamika hubungan toksik dan kekerasan emosional.
Apakah ada pesan harapan dalam buku ini?
Sangat ada. Meski gelap, buku ini berakhir dengan pemulihan dan kebebasan.
Dimana bisa download ebook ini?
silahkan akses linktree yang terdapat di Instagram Aurelie : https://linktr.ee/aureliemoeremans


