Di saat dunia berlomba memperluas jaringan 6G, mempercepat transaksi digital, dan mengejar mimpi metaverse… ada satu masyarakat yang berjalan pelan-pelan, bahkan menolak listrik dan internet masuk ke wilayahnya.
Itulah Baduy Dalam, komunitas adat yang hidup di lereng Pegunungan Kendeng, Banten. Mereka hidup tanpa gadget, tanpa kendaraan bermotor, tanpa bank, bahkan tanpa uang dalam konsep modern.
Tapi anehnya… mereka tak kekurangan apa pun. Sandang cukup, pangan melimpah, papan nyaman. Hidup tenang tanpa saling sikut. Tidak ada CEO. Tidak ada kompetisi. Tidak ada kebanggaan karena followers banyak. Tidak ada keresahan karena belum checkout keranjang belanja.
Dan yang paling mencengangkan?
Kebijaksanaan ini tidak lahir dari buku teori ekonomi, bukan hasil algoritma, atau AI superpintar. Tapi dari ajaran turun-temurun yang mereka sebut: “pikukuh karuhun” – titah leluhur.”
🎯 Key Takeaways
🌿 Ajaran Baduy Dalam bersumber dari “pikukuh karuhun” (petuah leluhur) dan tatanan adat yang dijaga ketat
🚫 Mereka menolak kemajuan teknologi demi menjaga keseimbangan alam dan jiwa
🛖 Kehidupan komunitas dijalankan tanpa akumulasi kekayaan
🌾 Setiap orang cukup dengan apa yang bisa ia jangkau, dan semua saling menopang
🌍 Dunia modern mulai melihat Baduy Dalam sebagai cermin alternatif hidup ideal tanpa kompetisi rakus
🧭 Apa Itu “Pikukuh Karuhun”? Sumber Nilai Hidup Baduy
Pikukuh Karuhun adalah kumpulan nilai dan larangan sakral yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Bukan kitab tertulis, bukan doktrin yang bisa dibantah. Tapi tata hidup yang dijalani penuh penghayatan.
📜 Contoh Isi Pikukuh Karuhun:
- Dilarang menyakiti alam
- Tidak boleh menimbun hasil bumi
- Tidak boleh menggunakan kendaraan atau listrik
- Tidak boleh mendirikan rumah lebih megah dari tetangga
- Hidup harus seimbang, selaras, dan tidak berlebihan
“Kami tidak membaca buku, tapi hidup kami adalah buku itu sendiri.”
– Ucapan salah satu Jaro (pemimpin adat) saat ditemui peneliti LIPI
🧘♂️ Harmoni, Bukan Ambisi
Kebanyakan dari kita hidup di sistem yang membuat orang berpacu mengumpulkan kekayaan tanpa batas, bahkan seringkali menimbun sumber daya di luar kebutuhan.
Berbanding terbalik dengan Baduy Dalam:
- 🏠 Tidak ada rumah mewah, semua rumah serupa, sejajar, tidak ada simbol status
- 🌾 Kekayaan = sawah + hasil bumi secukupnya, tidak ditimbun untuk dijual
- 🧺 Pakaian sederhana, tanpa merek, tidak mengikuti tren
- 🔁 Saling tukar hasil tani dan kerajinan antar warga, tanpa sistem ekonomi rumit
Dan tetap… tidak ada yang kekurangan. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang bersaing.
🌍 Dunia Modern Mulai Melihat Baduy Sebagai Kiblat Tatanan Ideal
Di luar negeri, gerakan hidup minimalis, zero waste, slow living, dan eco-village mulai berkembang. Tapi semua itu masih dalam skala eksperimen atau gaya hidup alternatif.
Sementara Baduy Dalam sudah menjalani ini sejak ratusan tahun lalu, tanpa gimmick, tanpa label, tanpa hashtag.
“Baduy Dalam mengajarkan bahwa teknologi bukan satu-satunya solusi. Justru kadang, teknologi menjauhkan manusia dari manusia lain, dari dirinya sendiri, dan dari alam.”
– Dra. Retna Sari, Antropolog UI
📦 Berapa Banyak Harta Orang Baduy Dalam?
Coba bandingkan:
💳 Kita: Punya tabungan digital, e-wallet, aset NFT, token crypto, bahkan barang tak tampak yang kita sebut ‘kekayaan’.
🧺 Baduy Dalam: “Kekayaan” mereka hanya sebesar ruang di rumahnya. Itu pun tidak ditutup rapat-rapat. Semua tahu, semua saling bantu.
Mereka tidak menyimpan untuk 10 tahun ke depan, karena percaya bahwa jika hidup selaras, alam akan memberi sesuai kebutuhan. Bukan keinginan.
🔁 Tidak Ada Sampah, Tidak Ada Konsumerisme
Yang menarik, siklus hidup mereka nyaris tanpa limbah.
- Daun pisang jadi bungkus
- Bambu jadi atap
- Air dari sungai langsung diminum
- Tidak ada plastik, tidak ada iklan, tidak ada cicilan
Sementara kita… sibuk mengelola sampah dari gaya hidup yang terus mengonsumsi.
🧠 Apa Yang Bisa Kita Pelajari dari Ajaran Baduy Dalam?
✅ Cukup itu ada. Asal tahu kapan berhenti.
✅ Alam bukan objek eksploitasi, tapi partner hidup.
✅ Komunitas lebih penting daripada individualisme.
✅ Spiritualitas tidak perlu gadget, cukup dengan kesadaran.
Baduy tidak butuh konten motivasi untuk hidup tenang.
Mereka tidak mengenal FOMO.
Tidak takut ketinggalan tren.
Tidak iri pada yang lebih viral.
❓ FAQ Tentang Ajaran & Gaya Hidup Baduy Dalam
Apakah Baduy Dalam punya agama?
Mereka menganut Sunda Wiwitan, sistem kepercayaan leluhur yang mengajarkan hidup seimbang, menghormati roh alam dan leluhur.
Apakah semua aturan Baduy berasal dari agama?
Bukan dari agama formal, tapi dari tata nilai spiritual yang bersumber pada karuhun (leluhur) dan alam. Hukum adat = hukum hidup.
Apakah boleh modernisasi masuk ke Baduy?
Baduy Dalam menolak total teknologi, sedangkan Baduy Luar lebih fleksibel. Modernisasi hanya boleh jika tidak merusak keseimbangan hidup.
Apa Baduy Dalam pernah kekurangan pangan?
Tidak. Meski hidup sederhana, semua hasil alam dimanfaatkan secara efisien. Mereka tahu cara menyimpan, menanam ulang, dan membagi.


