Apakah Gunung Gede Berpotensi Aktif Di Kemudian Hari

Gunung itu tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menunggu. Diam, tapi menyimpan energi yang tak terlihat.

Begitu juga dengan Gunung Gede, salah satu gunung api paling populer di Jawa Barat. Jalur pendakiannya ramai. Kawahnya jadi destinasi favorit. Tapi di balik keindahannya, pertanyaan itu selalu muncul—pelan, tapi serius.

Apakah Gunung Gede berpotensi aktif lagi?

Key Takeaways:
🌋 Gunung Gede adalah gunung api aktif tipe stratovolcano
📜 Memiliki riwayat erupsi historis meski tidak sering
📊 Status aktivitas diawasi ketat oleh PVMBG
⚠️ Zona rawan sudah dipetakan untuk mitigasi
🧭 Potensi aktif tetap ada, namun dengan sistem monitoring modern

Mengenal Karakter Gunung Gede

Secara geologis, Gunung Gede aktif termasuk dalam kategori stratovolcano—gunung api kerucut dengan lapisan lava dan material piroklastik. Tipe ini dikenal memiliki potensi letusan eksplosif, meski frekuensinya tidak selalu tinggi.

Gunung Gede berada dalam kompleks Gunung Gede-Pangrango. Kawah utamanya, Kawah Ratu dan Kawah Wadon, masih memperlihatkan aktivitas fumarola—hembusan gas panas dari dalam bumi.

Ketika saya berdiri di bibir kawah beberapa tahun lalu, bau belerang menyengat. Tanah terasa hangat di beberapa titik. Itu bukan imajinasi. Itu tanda bahwa sistem magmatik di bawahnya masih hidup.

Menurut data dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), gunung ini termasuk gunung api aktif yang dipantau secara rutin menggunakan seismograf dan sensor deformasi tanah.

Artinya, ia bukan gunung mati.

Sejarah Erupsi Gunung Gede

Banyak orang mengira Gunung Gede sudah “tenang” karena tidak ada letusan besar dalam beberapa dekade terakhir.

Padahal secara historis, sejarah erupsi Gunung Gede mencatat beberapa aktivitas sejak abad ke-18. Letusan terakhir yang tercatat signifikan terjadi pada tahun 1957.

Mari kita lihat gambaran singkatnya:

TahunJenis AktivitasDampak
1747Erupsi eksplosifAbu vulkanik lokal
1832Aktivitas kawahGas dan lontaran material
1957Erupsi kecilPeningkatan aktivitas kawah
2000-anAktivitas fumarolaNormal fluktuatif

Menurut vulkanolog senior dari Badan Geologi, Dr. Surono (yang akrab dikenal sebagai Mbah Rono), “Gunung api aktif tidak harus meletus besar untuk disebut berbahaya. Aktivitas kecil pun bisa menjadi indikator sistem magmatik yang masih bekerja.”

Kalimat itu sederhana. Tapi maknanya dalam.

Apakah Potensi Erupsi Masih Ada?

Jawaban jujurnya?

Ya.

Selama statusnya masih dikategorikan sebagai gunung api aktif, maka potensi erupsi Gunung Gede tetap ada. Namun potensi bukan berarti kepastian.

Gunung api bekerja seperti tekanan dalam panci tertutup. Selama tekanan bisa dilepas secara perlahan—melalui gas, retakan kecil, atau aktivitas minor—maka letusan besar bisa tertunda atau bahkan tidak terjadi dalam waktu lama.

Profesor Vulkanologi ITB, Prof. Dwikorita Karnawati, pernah menjelaskan dalam seminar kebencanaan bahwa Indonesia berada di zona cincin api Pasifik. “Setiap gunung api aktif memiliki siklusnya masing-masing. Tidak bisa diprediksi dengan tanggal pasti, tapi bisa dipantau gejalanya.”

Itulah kenapa monitoring menjadi kunci.

Tanda-Tanda Gunung Akan Meletus

Banyak yang bertanya, bagaimana kita tahu kalau gunung mulai “gelisah”?

Beberapa indikator umum dalam aktivitas vulkanik Gunung Gede meliputi:

🌡️ Peningkatan suhu kawah
📈 Lonjakan aktivitas gempa vulkanik
🌫️ Asap kawah makin tebal dan tinggi
📏 Deformasi atau penggembungan tubuh gunung

Semua ini dipantau menggunakan alat modern: seismograf, GPS geodetik, hingga sensor gas.

Sebagai pendaki, kita mungkin hanya melihat kabut atau asap tipis. Tapi di balik layar, para ahli membaca data dengan sangat detail.

Dan kabar baiknya—hingga saat ini, status Gunung Gede berada pada Level I (Normal). Artinya aktivitas masih dalam batas wajar.

Zona Rawan dan Mitigasi

Salah satu bentuk keseriusan pemerintah adalah pemetaan zona rawan Gunung Gede.

Biasanya radius bahaya ditetapkan sekitar 1–3 km dari kawah aktif, tergantung pada peningkatan aktivitas.

Mitigasi yang dilakukan meliputi:

🚨 Sosialisasi ke warga sekitar
📢 Sistem peringatan dini
🗺️ Peta jalur evakuasi
👨‍🚒 Simulasi kebencanaan rutin

Masyarakat di sekitar Cianjur dan Sukabumi juga sudah cukup familiar dengan prosedur darurat.

Saya pernah berbincang dengan warga Desa Cipanas. Katanya, “Kami hidup berdampingan dengan gunung. Takut? Tidak. Tapi tetap waspada.”

Itu sikap yang paling realistis.

Dampak Jika Terjadi Letusan

Jika skenario terburuk terjadi, beberapa potensi bahaya meliputi:

  • Hujan abu vulkanik
  • Aliran lava atau lahar
  • Gas beracun
  • Gangguan penerbangan regional

Namun skala dampaknya sangat tergantung pada tipe dan kekuatan erupsi.

Perlu dipahami, tidak semua letusan berarti bencana besar seperti Merapi atau Semeru. Banyak gunung api meletus dalam skala kecil dan terkendali.

Bagaimana Dengan Aktivitas Wisata?

Pertanyaan penting lainnya—apakah aman mendaki?

Selama status Gunung Gede terbaru berada di Level I (Normal), aktivitas pendakian tetap diperbolehkan melalui jalur resmi seperti Cibodas dan Gunung Putri.

Namun jika status naik ke Level II (Waspada), biasanya ada pembatasan radius tertentu.

Pendaki wajib:

🎒 Mendaftar resmi
📋 Mengecek status sebelum naik
📱 Memantau informasi dari PVMBG

Jangan hanya mengandalkan kabar dari media sosial.

Perspektif Ilmiah vs Kekhawatiran Publik

Sering kali isu gunung api menjadi viral karena foto asap kawah atau suara dentuman yang belum tentu berbahaya.

Di sinilah pentingnya literasi kebencanaan.

Menurut psikolog bencana, Dr. Yuliana Kartini, “Ketakutan masyarakat sering dipicu oleh kurangnya pemahaman. Informasi yang tidak utuh bisa memperbesar kecemasan.”

Karena itu, penting membedakan antara fakta ilmiah dan spekulasi.

Jadi, Apakah Gunung Gede Akan Meletus Lagi?

Secara ilmiah, kemungkinan itu selalu ada. Karena ia adalah gunung api aktif.

Namun berdasarkan data terkini, tidak ada indikasi peningkatan signifikan yang mengarah pada erupsi besar dalam waktu dekat.

Gunung Gede bukan bom waktu yang akan meledak tanpa tanda. Ia dipantau. Diawasi. Dianalisis setiap hari.

Dan mungkin, seperti kebanyakan gunung di Indonesia, ia akan terus menghembuskan napas panasnya pelan-pelan tanpa drama besar.

Tapi satu hal yang pasti—hidup di negeri cincin api berarti hidup berdampingan dengan dinamika bumi.

Dan memahami itu jauh lebih penting daripada sekadar takut.

-
people visited this page
-
spent on this page
0
people liked this page
Share this page on
Share the Post:

Related Posts

Scroll to Top

Booking Form

Fill out the form below, and we will be in touch shortly.
Book Room Hotel