Ada satu cerita yang pernah saya dengar dari seorang teman lama. Hubungannya dengan pacarnya sudah berjalan hampir tiga tahun. Mereka terlihat baik-baik saja dari luar—foto liburan bersama, sering terlihat makan malam bareng, bahkan sudah mulai membicarakan rencana masa depan.
Tapi suatu malam dia berkata sesuatu yang cukup mengejutkan.
“Yang paling aneh,” katanya pelan, “selingkuh itu nggak terjadi tiba-tiba. Pelan-pelan… hampir tanpa terasa.”
Kalimat itu membuat saya berpikir cukup lama. Banyak orang menganggap perselingkuhan sebagai keputusan besar yang terjadi dalam satu momen. Padahal kenyataannya sering jauh lebih rumit. Biasanya ada proses panjang, ada celah kecil yang dibiarkan terbuka, ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Dan ketika semua faktor itu bertemu pada waktu yang sama, hubungan yang sebelumnya terasa kuat bisa tiba-tiba retak.
Key Takeaways
✨ Kurangnya komunikasi emosional sering menjadi awal dari munculnya perselingkuhan.
💔 Perasaan tidak dihargai atau tidak diperhatikan membuat seseorang mencari validasi dari orang lain.
📱 Kedekatan emosional dengan orang baru sering dimulai dari percakapan sederhana.
🧠 Kedewasaan emosional dan komitmen pribadi sangat mempengaruhi apakah seseorang akan tetap setia atau tidak.
Menurut psikolog hubungan Dr. Shirley Glass, penulis buku Not Just Friends, banyak perselingkuhan sebenarnya tidak dimulai dengan niat untuk mengkhianati pasangan. Sebaliknya, hubungan itu sering dimulai dari kedekatan emosional yang perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Mari kita lihat beberapa faktor terbesar yang sering menjadi penyebabnya.
Komunikasi Yang Mulai Menghilang
Hubungan pacaran sering dimulai dengan percakapan yang terasa tidak ada habisnya. Chat panjang sampai larut malam, cerita tentang hal-hal kecil, bahkan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting pun terasa menyenangkan untuk dibicarakan.
Namun seiring waktu, komunikasi kadang berubah.
Bukan karena pasangan tidak peduli lagi. Tetapi karena rutinitas, kesibukan, atau konflik kecil yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Lalu suatu hari seseorang mulai merasa:
“Aku sudah tidak benar-benar didengar lagi.”
Perasaan ini mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya bisa besar.
Ketika komunikasi mulai renggang, hubungan emosional perlahan ikut melemah.
Beberapa tanda komunikasi mulai bermasalah dalam hubungan:
💬 Percakapan menjadi singkat dan terasa formal.
📱 Lebih sering bermain ponsel daripada berbicara satu sama lain.
🧊 Topik pembicaraan terasa dangkal dan tidak lagi personal.
Menurut penelitian dari Journal of Social and Personal Relationships, pasangan yang kehilangan kedekatan komunikasi memiliki risiko konflik dan perselingkuhan yang lebih tinggi dibanding pasangan yang tetap menjaga dialog terbuka.
Perasaan Tidak Dihargai Dalam Hubungan
Ada satu kebutuhan emosional yang sering dianggap remeh dalam hubungan: rasa dihargai.
Padahal bagi banyak orang, perasaan dihargai adalah salah satu fondasi utama dalam hubungan romantis.
Bayangkan seseorang yang selalu berusaha dalam hubungan—menyempatkan waktu bertemu, membantu ketika pasangannya sedang kesulitan, atau memberi perhatian kecil setiap hari.
Namun usaha itu jarang diakui.
Lama-kelamaan muncul perasaan seperti ini:
“Apakah semua yang aku lakukan sebenarnya berarti?”
Ketika seseorang merasa tidak dihargai, mereka mulai lebih sensitif terhadap perhatian dari orang lain.
Kadang perhatian itu datang dari tempat yang tidak terduga.
🌼 Rekan kerja yang sering memuji.
💬 Teman lama yang tiba-tiba kembali menghubungi.
📱 Seseorang yang selalu responsif dalam percakapan.
Hal-hal kecil seperti ini sering menjadi awal kedekatan baru.
Kedekatan Emosional Dengan Orang Lain
Perselingkuhan jarang dimulai dengan kalimat romantis.
Sering kali dimulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Obrolan ringan.
Curhat kecil.
Lelucon yang dibagikan setiap hari.
Psikolog hubungan Dr. Shirley Glass menjelaskan bahwa banyak hubungan terlarang sebenarnya bermula dari persahabatan emosional yang tidak memiliki batas yang jelas.
Contohnya seperti ini.
Awalnya hanya teman kerja yang sering makan siang bersama.
Lalu mulai berbagi cerita pribadi.
Lalu mulai saling memahami masalah masing-masing.
Dan tanpa disadari, hubungan itu perlahan menjadi lebih dekat daripada hubungan dengan pasangan sendiri.
Beberapa tanda kedekatan emosional yang mulai berbahaya:
💬 Lebih sering curhat kepada orang lain daripada pasangan sendiri.
📱 Menyembunyikan percakapan dari pasangan.
❤️ Merasa lebih nyaman berbagi perasaan dengan orang lain.
Ketika hal ini terjadi, hubungan utama sering mulai kehilangan tempatnya.
Kurangnya Kedewasaan Emosional
Ada faktor lain yang sering menjadi penentu besar dalam kesetiaan seseorang: kedewasaan emosional.
Pria maupun wanita yang belum matang secara emosional sering kali masih mencari validasi dari banyak orang.
Perhatian dari orang baru terasa menyenangkan.
Pujian terasa memikat.
Godaan terasa sulit ditolak.
Sebaliknya, seseorang yang sudah matang secara emosional biasanya memiliki cara pandang berbeda.
Mereka memahami bahwa hubungan jangka panjang tidak selalu sempurna.
Akan ada masa bosan.
Akan ada konflik.
Akan ada masa sulit.
Namun mereka memilih untuk memperbaiki hubungan, bukan mencari pelarian.
Psikolog Dr. Robert Sternberg menjelaskan bahwa cinta jangka panjang membutuhkan tiga komponen:
- passion
- intimacy
- commitment
Tanpa komitmen, hubungan hanya menjadi emosi sementara.
Hubungan Yang Terlalu Penuh Drama
Ada pasangan yang hidupnya seperti roller coaster.
Hari ini sangat romantis.
Besok bertengkar hebat.
Lusa kembali mesra.
Beberapa orang menganggap dinamika seperti ini membuat hubungan terasa “hidup”.
Namun dalam jangka panjang, hubungan yang terlalu penuh konflik bisa melelahkan secara emosional.
Ketika seseorang terus-menerus merasa stres dalam hubungan, mereka bisa mulai mencari ketenangan di tempat lain.
Beberapa pola hubungan yang sering memicu hal ini:
⚡ Pertengkaran yang terjadi terlalu sering.
😶 Silent treatment atau saling mendiamkan.
🔥 Konflik yang tidak pernah benar-benar selesai.
Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah bertengkar. Tetapi konflik seharusnya menjadi cara memahami satu sama lain, bukan medan perang yang melelahkan.
Tabel Faktor Penyebab Perselingkuhan Saat Pacaran
| Faktor | Dampak Dalam Hubungan |
| Kurangnya komunikasi | Pasangan merasa tidak didengar |
| Tidak merasa dihargai | Mencari validasi dari orang lain |
| Kedekatan emosional baru | Hubungan lain mulai menggantikan pasangan |
| Kedewasaan emosional rendah | Sulit mengendalikan godaan |
| Hubungan penuh konflik | Mencari kenyamanan di luar hubungan |
Perselingkuhan Jarang Terjadi Secara Tiba-Tiba
Jika kita melihat banyak cerita nyata tentang hubungan yang berakhir karena perselingkuhan, ada satu pola yang sering muncul.
Perselingkuhan jarang terjadi dalam satu malam.
Biasanya ada proses panjang sebelumnya.
Sebuah percakapan kecil.
Sebuah perasaan yang tidak diungkapkan.
Sebuah kebutuhan emosional yang diabaikan.
Sedikit demi sedikit, jarak mulai muncul.
Dan ketika jarak itu cukup besar, seseorang mungkin mulai membuka pintu untuk orang lain masuk ke dalam hidupnya.
FAQ Seputar Perselingkuhan Saat Pacaran
Apakah perselingkuhan selalu terjadi karena kurang cinta?
Tidak selalu. Banyak kasus perselingkuhan terjadi karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, bukan karena cinta sepenuhnya hilang.
Apakah hubungan bisa diperbaiki setelah perselingkuhan?
Beberapa pasangan berhasil memperbaiki hubungan mereka, tetapi prosesnya membutuhkan kejujuran, waktu, dan komitmen yang kuat dari kedua pihak.
Apakah semua hubungan memiliki risiko perselingkuhan?
Setiap hubungan memiliki risiko konflik, tetapi hubungan dengan komunikasi sehat dan rasa saling menghargai biasanya jauh lebih stabil.
Bagaimana cara mencegah perselingkuhan dalam hubungan?
Menjaga komunikasi terbuka, menghargai pasangan, dan menetapkan batas yang sehat dengan orang lain dapat membantu menjaga kepercayaan dalam hubungan.


