Jika hari ini Anda membuka Netflix, YouTube, atau bahkan sekadar scrolling media sosial, besar kemungkinan Anda akan menemukan satu hal yang sama: anime Jepang. Dari anak kecil hingga orang dewasa, dari Jakarta sampai New York, dari penggemar kasual sampai kolektor figur miliaran rupiah—semuanya terseret dalam gelombang besar budaya visual yang lahir dari negeri sakura.
Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana bisa Jepang, negara kecil yang pernah hancur lebur akibat Perang Dunia II, justru bangkit menjadi pusat industri anime terbesar di dunia?
🎌 Intisari Penting Sejarah Anime Jepang:
- 📜 Anime lahir dari eksperimen animasi awal abad ke-20
- 🎥 Osamu Tezuka menjadi “Bapak Anime Modern”
- 📺 Era televisi 1960-an memicu ledakan produksi
- 🌏 Globalisasi 1990-an menjadikan anime fenomena internasional
- 💰 Kini anime menjadi pilar ekonomi kreatif Jepang
Mari kita telusuri perjalanan panjangnya. Bukan sekadar sejarah industri, tapi kisah tentang kreativitas, ketahanan, dan identitas budaya.
Awal Mula Animasi Jepang di Era Pra-Perang
Sejarah perkembangan anime dimulai sekitar tahun 1910–1920-an. Kala itu, Jepang mulai bereksperimen dengan teknik animasi yang terinspirasi dari Barat, terutama Amerika dan Prancis.
Film animasi pendek seperti karya Jun’ichi Kōuchi dan Seitaro Kitayama menjadi pionir. Namun industri ini belum stabil. Produksi masih mahal, teknologinya terbatas, dan pasar belum terbentuk.
Kemudian datang Perang Dunia II.
Pada masa perang, animasi lebih banyak digunakan sebagai alat propaganda pemerintah. Salah satu karya terkenal adalah “Momotaro: Sacred Sailors” (1945). Film ini sering disebut sebagai animasi panjang pertama Jepang.
Namun setelah Jepang kalah perang, industri ini hampir runtuh.
Ironisnya, dari kehancuran itulah fondasi besar anime modern dibangun.
Osamu Tezuka dan Revolusi Gaya Anime
Tak mungkin membahas sejarah anime Jepang tanpa menyebut Osamu Tezuka.
Tezuka, yang sering dijuluki “God of Manga”, membawa pendekatan sinematik ke dalam ilustrasi. Ia terinspirasi dari Walt Disney, namun mengembangkan gaya khas: mata besar ekspresif, emosi dramatis, dan narasi kompleks.
Karya monumentalnya, Astro Boy (1963), menjadi titik balik.
Astro Boy bukan hanya populer di Jepang. Ia menjadi anime televisi pertama yang diekspor secara luas ke Amerika Serikat.
Menurut Profesor Susan Napier, pakar budaya Jepang dari Tufts University, “Tezuka tidak hanya menciptakan karakter, ia menciptakan bahasa visual yang kini menjadi identitas global anime.”
Dari sinilah industri anime mulai membentuk wajahnya.
Era Televisi dan Ledakan Produksi
Masuk ke era 1960–1970-an, televisi menjadi medium utama. Biaya produksi harus ditekan agar bisa tayang rutin setiap minggu.
Lahir sistem animasi terbatas (limited animation), yang memungkinkan produksi cepat dengan biaya lebih rendah. Teknik ini kemudian menjadi standar dalam industri anime Jepang.
Studio besar mulai bermunculan:
| Studio | Tahun Berdiri | Kontribusi Besar |
| Toei Animation | 1948 | Dragon Ball, One Piece |
| Sunrise | 1972 | Gundam Series |
| Studio Ghibli | 1985 | Spirited Away, Totoro |
Era ini melahirkan genre mecha, sci-fi, dan drama remaja yang kompleks. Anime tak lagi sekadar tontonan anak-anak.
Tahun 1980–1990: Era Keemasan Anime
Inilah masa yang sering disebut sebagai era keemasan anime.
Film seperti Akira (1988) membuka mata dunia bahwa anime bisa gelap, filosofis, dan dewasa. Neon Genesis Evangelion (1995) mengubah standar narasi psikologis dalam animasi.
Saya pribadi masih ingat pertama kali menonton Evangelion. Rasanya berbeda. Bukan sekadar robot melawan monster, tapi pergulatan batin manusia.
Anime menjadi medium ekspresi serius.
Ekspor anime meningkat pesat. Amerika, Eropa, dan Asia Tenggara mulai mengimpor serial Jepang. Budaya pop Jepang—termasuk manga dan anime—menjadi fenomena global.
Anime Sebagai Kekuatan Ekonomi Jepang
Hari ini, ekspor anime Jepang bernilai miliaran dolar per tahun.
Menurut laporan Association of Japanese Animations (AJA), nilai industri anime secara global telah melampaui 2 triliun yen dalam beberapa tahun terakhir.
Anime tidak hanya menghasilkan uang dari penayangan. Ada:
💿 Penjualan Blu-ray & DVD
🎮 Adaptasi game
👕 Merchandise & figur koleksi
🎡 Taman hiburan & event cosplay
Anime telah menjadi tulang punggung ekonomi kreatif Jepang.
Bahkan pemerintah Jepang memanfaatkan “Cool Japan Strategy” untuk mempromosikan budaya pop sebagai alat diplomasi lunak (soft power).
Era Streaming dan Dominasi Global
Masuk era 2010-an, platform streaming mengubah segalanya.
Netflix, Crunchyroll, Disney+, semuanya berlomba mengamankan lisensi anime. Produksi meningkat drastis. Anime kini tayang simultan secara global.
Judul seperti Attack on Titan, Demon Slayer, dan Jujutsu Kaisen mencetak rekor penonton internasional.
Demon Slayer: Mugen Train bahkan menjadi salah satu film dengan pendapatan tertinggi dalam sejarah box office Jepang.
Kini, anime terbesar di dunia bukan lagi sekadar klaim emosional. Ia adalah data statistik.
Mengapa Jepang Bisa Mendominasi?
Ada beberapa faktor kunci:
🎨 Budaya visual kuat sejak era ukiyo-e
📚 Tradisi manga sebagai fondasi cerita
🏢 Ekosistem studio yang solid
🧠 Kreator dengan kebebasan artistik tinggi
Namun menurut Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli, kunci utamanya adalah kejujuran dalam bercerita.
“Anime yang baik lahir dari pengamatan mendalam terhadap manusia dan alam,” katanya dalam sebuah wawancara.
Dan mungkin di situlah letak rahasianya.
Tantangan Industri Anime Modern
Meski terlihat gemilang, industri ini tidak tanpa masalah.
Animator muda sering dibayar rendah. Jam kerja panjang menjadi isu serius. Persaingan global juga semakin ketat.
Namun di tengah tantangan, inovasi terus berjalan. Teknologi CGI, kolaborasi internasional, hingga eksplorasi genre baru terus memperkaya lanskap anime.
FAQ Seputar Sejarah Anime Jepang
Siapa pencipta anime pertama di Jepang?
Beberapa pionir awal adalah Jun’ichi Kōuchi dan Seitaro Kitayama pada awal abad ke-20.
Mengapa Osamu Tezuka disebut Bapak Anime?
Karena ia mempopulerkan format serial televisi dan gaya visual khas anime modern.
Apa anime pertama yang sukses secara global?
Astro Boy menjadi salah satu yang pertama menembus pasar internasional.
Mengapa anime Jepang berbeda dari animasi Barat?
Anime sering mengeksplorasi tema kompleks, dewasa, dan beragam genre yang lebih luas.
Apakah industri anime masih berkembang?
Ya. Bahkan pertumbuhannya semakin cepat berkat platform streaming global.
Dari reruntuhan pascaperang hingga menjadi raksasa budaya global, perjalanan anime Jepang bukan sekadar kisah hiburan. Ia adalah bukti bahwa kreativitas bisa menjadi kekuatan ekonomi, identitas nasional, dan bahasa universal yang melintasi batas negara.
Dan ketika seseorang di Brasil, Indonesia, atau Prancis menangis karena adegan anime yang menyentuh—di situlah kita melihat betapa besar pengaruh yang telah dibangun Jepang selama lebih dari satu abad.


